
Rokan Hulu, Mengabarkan.com – Kabar memilukan datang dari sebuah keluarga miskin di Kecamatan Ujung Batu, Kabupaten Rokan Hulu, Riau.
Waris (53) bersama istri tercintanya Asmidar, hidup melarat dengan hanya mengharapakan uluran tangan dari warga sekitar.
Mirisnya, pasangan sumai istri (Pasutri) ini tinggal di sebuah rumah papan yang berukuran 4×4 meter, yang berdekatan dengan pemakaman umum. Kondisi rumah itu pun jauh dari kata layak.

Terlihat, sebagian dinding rumah yang terbuat dari papan itu sudah lapuk. Ada juga dinding yang dilapisi dengan seng bekas. Bahkan pintu depan pun sudah rusak. Hanya bisa masuk melalui pintu belakang. Penerangan di dalam rumah itu hanya ada satu lampu, dan satunya lagi tepasang di belakang rumah. Aliran arus listriknya pun diambil dari masjid yang tak jauh dari rumahnya.
Saat Mengabarkan.com menyambangi rumah tersebut, kedua pasangan suami istri itu terlihat lagi duduk bersama sambil bercerita ringan. Tak jelas apa yang disampaikan keduanya, tetapi tatapan Waris dan istrinya terlihat kosong akibat kondisi pilu yang dirasakan mereka.

Sesekali, Waris masih bersedia menjawab pertanyan wartawan, walaupun kata-katanya sedikit sulit untuk dipahami.
“Sudah 7 tahun kami di sini. Ini istri kedua saya. Istri pertama sudah meninggal 10 tahun lalu. Kalau dari sini (istri kedua), tak da anak. Kalau dari istri kemarin, anak saya ada dua. Satu perempuan dan satu laki-laki. ” kata Waris menceritakan kisah hidupya.
Pria kelahiran Kabupaten Kampar ini menjelaskan, untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya, mereka dibantu oleh warga sekitar, serta pihak lain yang peduli dengan kondisi kehidupannya.
“Saya dulu kerja bangunan, bawak becak juga. Sekarang saya sudah sakit gula basah (diabetes),” ujarnya sembari menunjukkan satu jari tangan dan dua jari kakinya yang sudah putus, kepada reporter Mengabarkan.com, pada Sabtu (18/3/2023).
Ia menceritakan, untuk biaya pengobatannya selama ini berasal dari warga sekitar, dan keluarga dekatnya. ”Ada yang bantu, ini obatnya,” katanya sambil menunjuk obat dokter dan tradisonal yang digantungkan di tiang rumahnya.
Disambangi Babinsa
Ternyata, informasi tentang kondisi yang memprihatinkan yang dirasakan oleh Waris dan Asmidar tersebut sampai ke telinga Babinsa dari Koramil 08 Tandun/Kodim 0313 KPR.

Babinsa Kopda Muliyono Sabdo, terlihat sedang menyambangi rumah pasturi tersebut. “Iya Bang, saya dapat informasi dari warga juga. Infonya, ada warga di Desa Suka Damai, RT 001, RW 004, kondisi kehidupanya sangat memprihatinkan,” kata Muliyono, kepada reporter Mengabarkan.com, pada Sabtu (18/3/2023).
Sebelum mengecek informasi itu, lanjutnya, pihaknya juga membawa berupa bantuan sembako, yaitu beras dan mie instan untuk meringankan beban ekonomi yang dirasakan oleh Waris dan istrinya.
“Mudah-mudahan dengan bantuan yang sedikit ini, bisa meringkan bebaan ekonomi keduanya,” ujar Babinsa.
Warga sekitar, Fajriah Susanti (27), juga membenarkan kondisi pilu yang dirasakan pasutri itu. Pihaknya mengakui, kalau selama ini ia sering datang ke rumah Waris dan Asmidar untuk memeberikan bantuan.
“Saya sering juga ke sini Bang, sekalian bawa bantuan untuk meringakan beban mereka. Kasihan kita lihatnya. Mereka tinggal di rumah yang kondisinya sangat memprihatinkan,”katanya.
Ia menilai, dengan kondisi rumah yang ukuran 4×4 itu, sangatlah tidak layak bagi kedunya .
“Sebenarnya ini tak layak. Mereka hanya tidur di lantai beralaskan tikar. Bahkan ruang memasak pun sama dengan ruang tamu. Yang jelas pasti pengap lah,” kata Fajriah, kepada reporter Mengabarkan.com. *** (Paber)






