Wawancara Eksklusif: Menakar Kinerja AKBP Pangucap Selama Bertugas di Rokan Hulu

Reporter Mengabarkan.com saat wawancara khusus dengan AKBP Pangucap di ruang kerjanya, pada Kamis 30/3/2023).

Rokan Hulu, Mengabarkan.com – Sejak terbitnya Surat Telegram bernomor 714/III/Kep/27/Maret/2023, menjadi hal yang bersejarah bagi AKBP Pangucap Priyo Soegito SIK, MH. Pasalnya, dalam surat tersebut namanya menjadi salah satu dari Perwira Menegah (Pamen) di Polda Riau yang ikut dimutasi.

Dalam surat telegram itu, AKBP Pangucap dipercaya oleh Polri sebagai Kapolres di Kabupaten Kuantan Singinggi (Kuansing) Provinsi Riau.

Sebagai pengantinya akan diisi oleh AKBP Budi Setiyono yang sebelumnya menjabat sebagai Kasubdit Regident Polda Riau.

Sejak bertugas pada 17 Juli 2022 lalu, AKBP Pangucap sudah delapan bulan memimpin Mapolres Rokan Hulu. Tentunya dengan waktu yang singkat itu banyak program yang belum seutuhnya terlaksana.

Untuk menyikapi hal tersebut, berikut petikan wawancara reporter Mengabarkan.com dengan AKBP Pangucap di ruang kerjanya, pada Kamis siang (30/3/2023).

Kabarnya Bapak  dipercaya oleh Polri memimpin Mapolres Kuansing ya?

Alhamdulillah, baru-baru ini Surat Telegarmnya (ST) sudah keluar. Dan saya pindah tugas ke Kabupaten Kuantan Singinggi (Kuansing) Provinsi Riau, sebagai Kapolres di sana.

Kalau serah terima jabatan (sertijab) nanti di Polda Riau. Kemungkinan tanggal 11 April 2023 nanti. Ya, kita tunggu saja waktunya Bang.

Sudah berapa lama Bapak bertugas di Rokan Hulu?

Saya ditugaskan ke Rohul dari tanggal 17 Maret 2022 lalu, ya sekitar delapan bulan lah.

Lantas, dengan waktu yang singkat itu apa saja yang sudah Bapak kerjakan?

Tentunya ada ya. Tetapi kalu untuk sempurna itu belum seluruhnya tercapai. Mudah-mudahan dengan pengganti saya yang baru,  program itu bisa berjalan dengan baik sesuai dengan keinginan masyarakat, khususnya di Rokan Hulu.

AKBP Pangucap yang saat ini dipercaya Polri memimpin Polres Kuansing. Foto Mengabarkan.com

Boleh dijelaskan secara sepesifik, apa saja kinerja yang sudah Bapak lakukan?

Tentu yang pertama itu terkait konflik ya, seperti masalah masyarakat dengan pihak perkebunan, konflik masyarakat dengan masyarakat.  Tentunya itu menjadi atensi selama saya bertugas di Rokan Hulu.

Dan Alhamdulillah, dari 17 permasalahan yang kita tangani sudah 10 yang selesai. Tetapi untuk 2023 ini ada 9 permasalahan lagi yang belum tuntas. Mudah-mudahan setelah pengganti saya nanti, permasalahan itu bisa teratasi.

Selain itu, selama saya bertugas di Rokan Hulu, penanganan kasus peredaran gelap narkoba juga meningkat. Artinya, kita benar-benar melakukan upaya penegakan hukum maupun pendekatan terhadap masyarakat, sehingga peredaran gelap narkoba itu bisa teratasi.

Apa salah satu bukti nyata yang sudah Bapak lakukan?

Tentunya pendekatan terhadap para tokoh masyarakat, tokoh adat dan tokoh agama. Nah, setiap kita mengadakan jumat curhat, saya selalu sampaikan agar masyarakat tidak takut melapor apabila menemukan adanya peredaran narkoba di wilayahnya.

Dan itu memang terbukti, saat ini warga sudah berani melaporkan, bahkan pernah ada yang menelepon saya secara langsung.

Kemudian, saya juga selalu sampaikan kepada jajaran termasuk seluruh Kapolsek agar menindak tegas semua pelaku tindak kriminal di wilayah hukum masing-masing. Bahkan, saya sudah instruksikan agar setiap Kapolsek mengaktifkan kembali Pos Kamling dan Pam Swakarsa, agar dapat mengatasi terjadinya tindak pidana.

Selain konflik dan peredaran gelap narkoba, bagaimana dengan masalah Karhutla?

Oh iya, jadi begini Bang. Masalah kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) ini memang menjadi perhatian semua pihak, khususnya Polri. Artinya bagaimana upaya agar Riau bebas dari titik api, tak terkecuali di Rohul.

Saya selalu sampaikan setiap melakukan rapat analisi dan evaluasi (anev) terkait mengatasi karhutla di Rohul. Apa yang paling utama dilakukan oleh seluruh tim, yaitu adalah langkah pencegahan.

Kalau pencegahan ini bisa terlaksana, maka karhutla di Rokan Hulu tidak akan terjadi.

Dalam mendukung pencegahan itu, apa yang sudah Bapak lakukan?

Seperti yang sudah saya sampaikan tadi, semua harus melakukan upaya pendekatan terhadap masyarakat.

Kalau di Rohul, saya sudah menemui Ketua Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Rokan Hulu, agar dapat bersama-sama menyampaikan kepada masyarakat terkait dampak yang diakibatkan jika membakar lahan saat bercocok tanam.

Jadi, semua para tokoh harus dirangkul, sehingga apa yang kita inginkan untuk menjadikan Riau bebas dari kabut asap bisa tercapai. *** (Paber)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *