Cerita tentang “Liberty” yang Tak Berkesudahan

Mengabarkan.com – Mendung menggelayuti langit kota New York, pada Minggu (25/9/2022) pagi. Prakiraan cuaca menyebutkan, hujan dapat turun sewaktu-waktu pada siang hingga sore hari.

Nyatanya, antusiasme tak surut dan kaki tetap melangkah menuju Pulau Liberty, demi melihat dari dekat ikon Amerika Serikat yang termahsyur itu.

Embusan angin dingin menyambut di dermaga penyeberangan New York Harbor. Kapal feri Lady Liberty telah separuh terisi orang-orang yang ingin menyeberang ke Pulau Liberty. Riak air muara sungai menggoyang kapal ke kanan dan ke kiri, menemani langkah menuju dek paling atas yang terbuka. Orang-orang sudah berdiri memenuhi sisi kanan dan kiri kapal yang tak lama kemudian melaju membelah permukaan air.

Di pengeras suara terdengar suara pemandu yang menjelaskan dengan singkat tentang Patung Liberty. Nama resmi patung ini adalah Liberty Enlighting the World. Diresmikan pada 28 Oktober 1886, patung ini merupakan hadiah dari rakyat Perancis untuk rakyat Amerika Serikat.

Desain patung dibuat oleh pematung muda Perancis, Frederich-Auguste Bartholdi. Tinggi patung tembaga mencapai 46 meter. Di bawahnya terdapat pedestal atau bangunan yang menjadi alas patung dengan tinggi 93 meter, atau setara gedung 10 lantai.

Patung ini berupa sosok Libertas, dewi kebebasan Romawi. Tangan kanannya memegang obor, sementara tangan kirinya memegang semacam sabak bertuliskan “July IV MDCCLXXVI” atau 4 Juli 1776, hari kemerdekaan AS.

Belenggu dan rantai yang patah di kakinya menandai dihapuskannya perbudakan. Patung inilah yang pertama kali dilihat oleh para imigran yang masuk ke wilayah AS melalui laut. Maka, ia menjadi ikon kebebasan.

Setelah feri merapat selepas perjalanan sekitar 15 menit, pengunjung bisa leluasa berjalan-jalan di taman yang luas di Pulau Liberty. Di situ terdapat Museum Patung Liberty tempat pengunjung bisa mendapatkan segala informasi tentang situs tersebut.

Berfoto dengan latar belakang Patung Liberty adalah hal wajib. Para pengunjung sibuk memilih spot foto yang paling “strategis”. Bergaya dengan berbagai pose, bahkan berjoget bersama-sama untuk direkam dalam video, tak bosan dilakukan pengunjung di sekitar patung ikonik tersebut. Semua demi memperoleh kenangan terindah saat berada di tempat bersejarah ini.

Pengunjung bisa meneruskan perjalanan dengan feri menuju Pulau Ellis, tak sampai 5 menit dari Pulau Liberty. Di pulau ini berdiri Museum Nasional Imigrasi tempat pengunjung bisa mendapatkan cerita tentang sejarah para imigran dari seluruh dunia yang mencoba mengadu nasib ke Amerika. Dulu di tempat ini, mereka disaring untuk bisa masuk ke daratan AS dan meraih impian hidup yang lebih baik. Banyak yang beruntung, tak sedikit pula yang sial ditolak masuk.

Selama pandemi Covid-19, pulau ini sepi pengunjung karena amat dibatasi. Sejak penularan mulai mereda, Pulau Liberty kembali ramai pengunjung. Tiket naik feri menuju pulau harganya 24 dollar AS atau sekitar Rp 364.000.

Pengunjung bisa masuk ke area pedestal dengan membayar lagi tiket 24,30 dollar AS. Sebelumnya area mahkota patung juga bisa dikunjungi, tetapi untuk saat ini masih ditutup.

Patung Liberty mewakili gambaran besar tentang kebebasan, tentang cerita dan pencarian kebebasan yang tak berkesudahan. Di banyak tempat, orang merasa telah menikmatinya. Di tempat lain, bisa jadi orang kehilangannya. Namun, apa itu sejatinya kebebasan, umat manusia masih terus mencarinya hingga kini. (Ber/Kompas.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *