Viral Kisah Pilu Warga Rohul Tinggal Dekat Kuburan, Wabup Langsung Telepon Kades

Wakil Bupati Rokan Hulu, H Indra Gunawan. Foto/Mengabarkan.com

Mengabarkan.com – Setelah viral pemberitaan di berbagai media, terkait kisah pilu warga yang tinggal di dekat kuburan hingga jari tangan dan kakinya putus, mendapat respon dari Wakil Bupati Rokan Hulu, H Indra Gunawan.

Wabup pun langsung menelepon kepala desa Suka Damai, Afrizal untuk menayakan kondisi yang dialami oleh pasangan sumai istri tersebut.

“Sebelumnya saya berterima kasih kepada wartawan yang sudah memberitakanya. Dan saya sudah nelpon kadesnya tadi. Saya minta agar kades bisa segera membantunya,” ujar Indra Gunawan, kepada reporter Mengabarkan.com, pada Senin (20/3/2023).

Ia menyampaikan, dalam waktu dekat, pihaknya akan meninjau langsung kondisi rumah warga yang tidak layak tersebut.

“Yang jelas dalam waktu dekat ini, saya akan ke sana bersama Dinas Sosial, Camat dan Kepala Desa. Intinya, bagaimana warga kita ini bisa terbantu kehidupanya,” tegas Wabup.

Indra Gunawan menambahkan, dari hasil komunikasinya dengan kepala desa Suka Damai, bahwa pasangan suami istri tersebut, memang sudah 4 tahun tinggal di Desa Suka Damai, Kecamatan Ujung Batu.

“Infromasi dari kades, bahwa rumah layak huni sudah pernah diajukan. Tetapi, karena tanah tidak ada, sehingga batal pembangunanya. Sedangkan untuk kebutuhan keluarga tersebut juga mendapatkan Bantuan Langsung Tunai (BLT),” jelas Wabup.

“Kalau untuk kesehatan mereka, saat ini sudah diajukan oleh kades ke pihak BPJS. Mudah-mudahan secepatnya terealisasi,” harap Wabup.

Waris bersama istri tercintanya Asmidar, hidup melarat dengan hanya mengharapakan uluran tangan dari warga sekitar. Foto/Mengabarkan.com

Untuk diketahui, sebelumnya kabar memilukan datang dari sebuah keluarga miskin di Desa Suka Damai, RT 001, RW 004, Kecamatan Ujung Batu, Kabupaten Rokan Hulu, Riau.

Waris (53) bersama istri tercintanya Asmidar (50), hidup melarat dengan hanya mengharapakan uluran tangan dari warga sekitar.

Mirisnya, pasangan sumai istri (Pasutri) ini tinggal di sebuah rumah papan yang berukuran 4×4 meter yang berdekatan dengan pemakaman umum. Kondisi rumah itu pun jauh dari kata layak.

Terlihat, sebagian dinding rumah yang terbuat dari papan itu sudah lapuk. Ada juga dinding yang dilapisi dengan seng bekas. Bahkan pintu depan pun sudah rusak. Hanya bisa masuk melalui pintu belakang. Penerangan di dalam rumah itu hanya ada satu lampu, dan satunya lagi tepasang di belakang rumah. Aliran arus listriknya pun diambil dari masjid yang tak jauh dari rumahnya.

Saat Mengabarkan.com menyambangi rumah tersebut, kedua pasangan suami istri itu lagi duduk bersama sambil bercerita ringan. Tak jelas apa yang disampaikan keduanya, tetapi tatapan Waris dan istrinya terlihat kosong akibat kondisi pilu yang dirasakan mereka.

Sesekali, Waris masih bersedia menjawab pertanyan wartawan, walaupun kata-katanya sedikit sulit untuk dimengerti.

“Sudah 7 tahun kami di sini. Ini istri kedua saya. Istri pertama sudah meninggal 10 tahun lalu. Kalau dari sini (istri kedua), taka da anak. Kalau dari istrik kemarin, anak saya ada dua. Satu perempuan dan satu laki-laki. ” kata Waris menceritakan kisah hidupya.

Pria kelahiran Kabupaten Kampar ini menjelaskan, untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya, mereka di bantu oleh warga sekitar, serta pihak lain yang peduli dengan kondisi kehidupannya.

“Saya dulu kerja bangunan, bawak becak juga. Sekarang saya sudah sakit gula basah (diabetes),” ujarnya sembari menunjukkan satu jari tangan dan dua jari kakinya yang sudah putus, kepada reporter Mengabarkan.com, pada Sabtu (18/3/2023).

Ia menceritakan, untuk biaya pengobatannya selama ini berasal dari warga sekitar, dan keluarga dekatnya. ”Ada yang bantu, ini obatnya,” katanya sambil menunjuk obat dokter dan tradisonal yang digantungkan di tiang rumahnya. (Paber).

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *