Polres Kuansing Sosialisasi Anti Perundungan

Polres Kuansing sosialisasi anti perundungan. Foto/Mengabarkan.com

Mengabarkan.com – Polres Kuantan Singingi (Kuansing) Riau, menggelar sosialisasi anti perundungan di SMKN 1 Teluk Kuantan, pada Kamis (9/11/2023).

Hal itu bertujuan untuk memberikan pendidikan karakter dan menanamkan prinsip toleransi pada murid-murid sebagai bagian dari edukasi anti perundungan.

Kegiatan sosialisasi dipimpin langsung oleh Kasat Binmas Polres Kuansing AKP H. Yuhelmi, yang dihadiri Kepala Sekolah SMK N 1 Teluk Kuantan Hurdiman, Wakil kepala kesiswaan SMK N 1 Teluk Kuantan, Kanit Binkamsa Aiptu Aprial Pindes, Kanit PPA Aipda Edu Lesmon Hutagaol, Anggota PPA Brigadir Arimbi, guru BK SMK N 1 Teluk Kuantan, perwakilan guru dan para siswa di SMK N 1 Teluk Kuantan.

Kepala sekolah SMK N 1 Teluk Kuantan, Hurdiman, mengucapkan terima kasih atas kesediaan pihak kepolisian dalam memberikan pencerahan dalam pemahaman anti perundungan(bullying).

“Semoga dengan adanya kegiatan ini kita semakin paham akan bahayanya bullying, serata sekolah kita terhindar dari perbuatan tersebut,” kata Hurdiman.

Sementara itu, Kapolres Kuansing AKBP Pangucap Priyo Soegito, melalui Kasat Binmas Polres Kuansing AKP H Yuhelmi menyampaikan apresiasinya terhadap pihak sekolah yang sudah bersedia menyediakan tempat kegiatan sosialisasi.

“Semoga dengan sosialisasi ini, perilaku bullying bisa dihilngkan. Dan mari kita jaga dan ciptakaan lingkungan sekolah yang nyaman bagi siswa dan guru,” jelasnya.

AKP H Yuhelmi menambahkan, Polres Kuansing siap untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat termasuk di sekolah.

“Jangan segan untuk melaporkan kalau memang ada tindak pidana yang terjadi di sekeliling kita,” tegas AKP Yuhelmi.

Di tempat yang sama, Kanit PPA Aipda Edu Lesmon Hutagaol menyampaikan, perkara perundungan ini di ancam oleh Undang-Undang.

Ia menerangkan, dalam kontek guru sebagai pendidik juga di beri perlindungan hukum dalam pelaksaan tugasnya, sehingga guru bisa memberikan sanksi yang wajar kepada siswa yang melanggar aturan sekolah.

Jika ada permasalahan yang terjadi di sekolah, katanya, sebaiknya diselesaikan di tingkat sekolah dengan mediasi orang ketiga sebelum membawanya kerana hukum.

“Berikan edukasi yang baik kepada siswa jangan sampai kita bertindak ternyata tindakan kita sudah termasuk kepada perkara yang dilarang, seperti bullying,” jelas Aipda Edu. (Paber).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *