Cacar Monyet, Berpotensi Kian Meluas?

Foto/Ilustrasi Virus

Mengabarkan.com – Memahami gejala virus cacar monyet atau monkeypox (mpox) sedini mungkin menjadi kunci pemutusan rantai penularan, yang kasusnya meningkat sejak Oktober lalu.

Menurut Satgas Monkeypox Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Robert Sinto, meski nyaris serupa, gejala cacar monyet berbeda dengan cacar air.

“Kalau cacar air itu tidak sampai getah bening membesar dan ruamnya cenderung gatal. Kalau cacar monyet, ruamnya justru nyeri,” kata Robert kepada detikX, Senin, 4 Desember 2023.

Robert menuturkan cacar monyet yang kini merebak di beberapa wilayah Indonesia berbeda dengan yang muncul pertama kali di Afrika. Gejala cacar monyet terdahulu diawali dengan demam dua hingga tiga hari, kemudian barulah muncul ruam. Ruam kemerahan tersebut semakin lama berubah menjadi bintil-bintil air. Sedangkan cacar monyet pada 2022 dan 2023 yang masuk ke Indonesia memiliki gejala berbeda.

“Cacar bisa jadi tidak diikuti dengan adanya demam. Atau demam justru muncul setelah ruam terlebih dahulu. Tapi utamanya ya ada fase ruam dan fase demam, selanjutnya adalah juga ada kelenjar getah bening yang membesar,” jelas staf Divisi Penyakit Tropik dan Infeksi Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM ini.

Adapun gejala lesi cacar monyet yang kini ditemukan berbeda dengan dulu yang dipersepsikan di Afrika. Menurut hasil pengamatan dari para pasien, lesi tidak menyebar ke seluruh tubuh dan hanya muncul secara berkelompok di beberapa bagian tubuh, terutama yang terpapar virus.

Misalnya di sekitar kemaluan. Dan yang lainnya bisa ada satu hingga dua bintil di lengan,” sebut Robert.

Selain itu, Robert memaparkan virus mpox yang masuk ke Indonesia ini memiliki risiko kematian yang rendah, yakni di bawah 0,1 persen. Bahkan, selama ia bertugas di RSCM untuk melakukan pengamatan gejala pada pasien cacar monyet, terdapat pasien yang tidak mengalami gejala sama sekali.

Meski begitu, Robert menggarisbawahi, seseorang yang memiliki kekebalan tubuh yang rendah mesti segera melakukan pemeriksaan. Ini agar memperoleh bantuan perawatan untuk meminimalkan infeksi dan gangguan kesehatan lainnya.

Menurut hasil penelusuran dari Kementerian Kesehatan, sebagian kasus cacar monyet yang terdeteksi ditularkan melalui kontak erat hubungan seksual. Sepakat dengan hal tersebut, Robert mengingatkan untuk melakukan pencegahan mpox dengan berhati-hati atau tidak melakukan kontak seksual berisiko.

“Kondom itu tidak melindungi terhadap mpox. Karena kondom itu kan hanya melindungi proses penularan melalui sperma dan cairannya. Tapi kan (penularan) itu bisa dengan kontak erat melalui kulit di sekitar kemaluannya itu,” ucap Robert.

Tindakan dini yang bisa diambil oleh seseorang ketika merasakan gejala cacar monyet adalah mengingat dan mencari tahu apakah sudah melakukan kontak dengan seseorang yang terindikasi terkena cacar monyet. “Kalau demamnya tiga hari, kemudian ada riwayat kontak disertai atau tidak dengan ruam, langsung (dianjurkan) buru-buru ke dokter,” ujar Robert.

Senada, Direktur Surveilans dan Kekarantinaan Kesehatan Kemenkes Achmad Farchanny Tri Adryanto mengharuskan siapa pun yang merasakan gejala cacar monyet memeriksakan diri dan melaporkan kondisinya ke puskesmas maupun rumah sakit terdekat.

“Nah, nanti dokter atau petugas kesehatan yang ada di pusat kesehatan tersebutlah yang memeriksa lebih lanjut,” terang Farchanny kepada detikX via sambungan telepon.

Petugas puskesmas, kata Farchanny, telah dibekali dengan pedoman penanganan mpox. Pedoman penanganan tersebut menjadi kuat setelah pengalaman menangani pandemi COVID-19.

Pengambilan spesimen atau swab bisa langsung dilakukan di puskesmas tersebut dikarenakan metodenya sama persis dengan pengambilan swab COVID-19. Hasil pengambilan swab tersebut kemudian dikirimkan oleh dinas kesehatan ke laboratorium rujukan yang sudah ditetapkan oleh Kemenkes.

“Pemeriksaan laboratorium dan obat Itu ditanggung oleh pemerintah. Kalau memang harus dirawat di rumah sakit, itu ditanggung oleh BPJS,” jelas Farchanny.

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi menyampaikan, selain tanggap menelusuri kasus penularan cacar monyet, Kementerian Kesehatan tengah menyiapkan vaksin yang ditujukan pada populasi kunci. Di antaranya yang mereka istilahkan sebagai laki-laki seks dengan laki-laki (LSL), pelaku seks berisiko (berganti-ganti pasangan), dan orang dengan HIV (ODHIV).

Sebanyak 498 orang yang masuk dalam kategori populasi kunci sudah memperoleh vaksin. Namun Nadia menyebutkan upaya tersebut masih terbatas di Jakarta. “Nah, selanjutnya nanti kita akan melakukan vaksinasi menunggu kedatangan 8.000 vaksin yang kita pesan. Tapi kembali lagi tentunya, ini bukan untuk masyarakat umum, lebih pada masyarakat rentan,” ucap Nadia.

Di sisi lain, penting bagi kita untuk menghindari pelabelan buruk atau pelekatan stigma sosial terhadap kelompok minoritas yang rentan terjangkit mpox. Sebab, hal tersebut akan semakin menyulitkan menjangkau untuk pengendalian, pencegahan, edukasi, hingga promosi kesehatan terkait mpox. Baik Farchanny maupun Nadia setuju terkait hal in. Menurut mereka, tantangan memberantas penyakit ini terletak pada masifnya stigma negatif yang sering disematkan pada kelompok rentan mpox.

Berpotensi Kian Meluas

Meski tidak mematikan, Siti Nadia Tarmizi menduga, banyaknya kasus di Jakarta dikarenakan masyarakatnya lebih aware terhadap cacar monyet. Ia juga menambahkan kemungkinan di daerah lain terdapat kasus cacar monyet yang tidak terlaporkan karena karakternya yang bisa sembuh sendiri dalam beberapa minggu.

“Ya kami tidak melihat ada satu kejadian peningkatan signifikan sih ya (di luar Jakarta), jadi mungkin mereka juga melakukan isolasi, tapi mereka tidak melaporkan,” tutur Nadia.

Epidemiolog dari Griffith University, Australia, Dicky Budiman mengungkapkan mpox bisa menjadi ancaman yang nyata jika tidak serius ditangani. Kemenkes menyebutkan angka potensi cacar monyet bisa mencapai 3.600 orang dalam setahun jika tidak dicegah dan ditangani. Namun Dicky Budiman memprediksi angkanya jauh lebih besar dari itu.

“Baik di Indonesia maupun di ASEAN, itu kelompok yang masuk ke dalam kategori rawan atau populasi kunci mpox itu bisa mendekati 1 juta. Jadi 3.600 itu kecil dan potensi untuk terus berkembang itu besar sekali. Bahkan, dalam prediksi saya, ini akan terus meningkat sampai melandainya Januari-an-lah,” terang Dicky Budiman kepada detikX.

Meski mpox tidak dikhawatirkan menjadi pandemi seperti COVID-19, menurut Dicky Budiman, karakter penularannya yang cukup cepat dan terkait erat dengan perilaku hubungan seks berisiko memungkinkan cacar monyet menjadi penyakit endemik.

“Yang namanya perilaku seks berisiko tinggi bukan hanya pada gay dan biseksual, tapi juga di kelompok manusia secara umum. Kan, ini sulit dikendalikan,” kata Dicky Budiman.

Dicky menyarankan agar Kemenkes menegakkan empat langkah penanggulangan cacar monyet secara ketat. Dimulai dari deteksi dini, contact tracing, isolasi dan karantina yang efektif, serta yang terakhir vaksinasi cincin untuk komunitas kunci.

Apalagi gejala yang ringan membuat penyakit ini malah menjadi susah dideteksi. Penting untuk menghindari stigma pada kelompok populasi kunci, seperti LSL dan ODHIV.

“Anggapan norma dan lain sebagainya itu membuat mereka semakin menutup diri. Ini membuat di antara mereka ada orang-orang yang memiliki gejala awal jadi enggan atau susah mengakses layanan kesehatan,” ucapnya.

Adapun researcher and advocacy officer di Inti Muda Indonesia Vincentius Azvian menguatkan selama ini faktor penularan disalahpahami hanya dilakukan oleh ODHIV dan orientasi seksual tertentu. Namun sebenarnya siapa pun bisa menularkannya. Oleh sebab itu, edukasi pencegahan cacar monyet akan lebih baik jika dilakukan secara menyeluruh kepada lapisan masyarakat, meski vaksinasi terfokus pada komunitas rentan.

“Jadi sebenarnya siapa pun memang rentan (menularkan cacar monyet). Terkait stigma diskriminasi, itu seperti lebih pada kesalahpahaman karena data yang menunjukkan di global itu, 98 persen, hampir 100 persen, ODHIV itu ya simply karena mereka ada masalah gangguan daya tahan tubuh,” tandas Azvian. (Paber).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *