
Mengabarkan.com – Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Kabupaten Rokan Hulu, mengadakan sosialisasi Kapasitas Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender (PPRG) pada Sub kegiatan Advokasi Kebijakan dan Penganggaran Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender (PUG), pada Selasa (28/11/2023), di Sapadia Hotel, Pasir Pengaraian.
Dalam kegiatan sosialisasi itu turut hadiri Kepala Dinsos P3A Rohul, Damri Poti, para kepala desa, perwakilan dari setiap Kecamatan di Rohul, serta Antoni Subeno yang merupakan Fasilitator Gender dari Provinsi Riau.
Subeno menjelaskan, gender merupakan konsep yang mengacu pada pembedaan peran dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan yang terjadi akibat keadaan sosial dan budaya masyarakat, dan dapat berubah.
Selain itu, gender diartikan sebagai pandangan masyarakat tentang perbedaan peran, fungsi, dan tanggung jawab antara perempuan dan laki-laki yang merupakan hasil konstruksi sosial budaya dan dapat berubah sesuai dengan perkembangan zaman dan mendapat dukungan masyarakat itu sendiri, yang berbeda di setiap tempat dan waktu.
“Dengan adanya sosialisasi ini, kita berupaya untuk mengintegrasi agar kesetaraan gender dapat terlaksana di Rokan Hulu. Sehingga tidak ada lagi ketimpangan sosial ke depanya,” jelas Subeno.
Ia merinci, kesenjangan gender yang terjadi, seperti terkait masalah ekonomi, kesehatan dan pendidikan. Sehingga diperlukan integrasi untuk mengatasi persolan tersebut.
“Kenapa kita melibatkan perangkat desa dan kecamatan, karena di desa itu sudah ada aturan dan peganganggaranya, yakni melalui Alokasi Dana Desa (ADD). Salah satu contoh, masalah pendidikan. Kenapa ada yang putus sekolah, apakah karena faktor ekonomi atau faktor lainnya? Nah, dengan adanya pemetaan ini, setiap desa sudah dapat mengambil keputusan yang tepat tanpa ada perbedaan sosial,” beber Subeno.
Dia berharap, dengan adanya sosialisasi tersebut, setiap desa di Rokan Hulu mampu menganalisis persolan serta mampu mengambil kebijakan dengan tepat.
“Juknis ADD itu kan sudah ada. Artinya tinggal melakukan pemetaan saja secara akurat, sehingga asas manfaat dapat dirasakan oleh masyarakat dan kesetaraan gender dapat terwujud,” jelasnya. (Paber).





