
Rokan Hulu, Mengabarkan.com – Banyak cara yang dilakukan oleh setiap daerah dalam menyambut bulan suci Ramadhan, salah satunya adalah potang balimau atau disebut juga dengan potang bolimau
Kegiatan ini sudah merupakan tradisi turun temurun dilakukan oleh masyarakat Rokan Hulu, Riau untuk “menyucikan diri”.
Dahalunya, kegiatan ini dilakukan di sepanjang aliran sungai, karena banyak warga yang bermukim di sepenjang aliran sungai. Tetapi bisa juga dilakukan di rumah masing-masing.

“Sebenarnya, potang bolimau ini tidak harus dilakukan di sepenjang aliran sungai, bisa juga di rumah. Intinya kan menyucikan diri, dan lingkungan masjid sekitarnya yang akan dipakai untuk beribadah di malam hari,” cerita Yusmar, Eks Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Rokan Hulu ini, kepada reporter Mengabarkan.com, pada Kamis (23/3/2023).
Ia menyebut, tradisi unik itu sudah dilakukan sejak ratusan tahun silam oleh para raja dan masyarakat saat itu. Dan sampai saat ini tradisi turun temurun tersebut masih tetap berjalan, khususnya di Rokan Hulu.
Tak wajib secara hukum islam
Menurut Yusmar, tradisi potang bolimau secara hukum islam bukanlah sesuatu yang wajib dilakukan. Kegiatan tersebut hanya bersifat tradisi yang dilaksanakan secara turun temurun setiap tahun menjelang bulan suci Ramadhan.
“Mandi bolimau ini merupakan tradisi turun temurun di Rokan Hulu, khususnya menyambut bulan suci Ramdhan,” ujar Yusmar.
Yusmar menjelaskan lagi, penamaan bolimau pun mempunyai istilah yang berbeda antara satu tempat atau daerah. Ada bulimau kasai di Kampar, potang mogang di Pekanbaru.

Sedangkan di Kabupaten Rokan Hulu, setidaknya ada tiga istilah dalam penyebutannya, seperti di Kecamatan Kepenuhan Hulu, warga menyebutnya dengan istilah belimau, di Kecamatan Ujung Batu, belimau cano, sedangkan di wilayah kota Pasir disebut juga dengan istilah potang bolimau.
“Jadi penyebutannya berbeda di setiap daerah atu tempat. Tapi pada intinya, kegiatan tradisi yang dilakukan oleh masyarakat tujuanya sama, yaitu untuk menyucikan diri dalam menyambut bulan suci Ramadhan,” terang Yusmar.
Ramuan wangi untuk mandi bolimau
Ternyata, dalam tradisi potang bolimau tersebut, setiap orang harus menyediakan berupa bahan-bahan ramuan wangi untuk dimandikan.
Ramuannya pun terdiri atas tumbuhan alam, seperti, buah jeruk purut, batang serei wangi, batang kabelu, jeruk nipis, rumput wangi, bunga cempaka, bunga seulanga, dan bunga-bunga lainya.
“Dahulu kan tak ada sabun dan sampo, jadi warga kala itu menggunakan rempah-rempah saat mandi bolimau,” terang Yusmar.
Tradisi potang bolimau harus dilestarikan
Sementara itu, Bupati Rokan Hulu H. Sukiman menyampaikan bahwa potang bolimau yang setiap tahun dilaksanakan di Rokan Hulu harus dilestarikan.
“Tradisi ini sangat kental dengan adat budaya melayu yang islami. Artinya, tradisi potang bolimau harus dilestarikan dan ditingkatkan, sehingga bisa menjadi event daerah dan pariwisata,” kata Bupati Sukiman, kepada Mengabarkan.com, seusai melaksanakan kegiatan potang bolimau di depan Masjid Agung Islamic Center Rohul, pada Rabu (22/3/2023). *** (Paber/adv)






